Showing posts with label Quotation. Show all posts

gravatar

Solidaritas dan Harapan Baru


[Cuplikan artikel di bawah ini bersumber dari tulisan Rm. Martin OFM yang ada di buku Teologi Politik terbitan Yayasan Bhumiksara Jakarta 2003.]
.......
Solidaritas kepada sesama manusia kadang dapat kita jadikan sebagai pedoman dan arah tindakan perealisasian iman kita juga. Dasar biblis-teologis yang menjadi cikal bakal ajaran sosial Gereja, yakni “kamu harus memberi mereka makan” (Mrk 6:37), menantang para murid untuk bersolider, berjuang demi sesama yang lapar, haus dan membutuhkan pertolongan. Untuk dapat bertindak solider, tidak perlu menunggu sampai orang menjadi kaya, tetapi harus segera dilaksanakan. Bertindak solider tidak dapat ditunda-tunda.

Solidaritas dapat juga menjadi acuan dan ukuran praksis iman kita. Hal ini menjadi nyata, kalau kita dihadapkan pada dasar biblis, khususnya Matius: “… Mari hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika aku lapar, kamu memberi Aku makanan; ketika Akku haus, kamu memberi Aku minum; ketika aku sakit, kamu merawat Aku. … Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan yuntuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:34-36.40). Dengan demikian, solidaritas terhadap sesama itu tidak boleh ditawar-tawar lagi.


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Kakawin Sutasoma Mpu Tantular


Judul buku = Kakawin Sutasoma Mpu Tantular
Penerbit = Komunitas Bambu, Agustus 2009
Penterjemah = Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo

Bagiku, buku yang mengulas Sutasoma merupakan “buku langka”. Menjadi langka karena isinya adalah hal sangat mendasar bagi bangsa dan negara Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika, akan tetapi sedikit yang beredar di masyarakat. Dari sekian puluh ribu judul buku yang ada di Jogja, hanya ada sedikit yang mengulas Sutasoma, itupun beberapa yang dalam bahasa Inggris. Selain itu juga karena inspirasi2 spiritual yang sangat mengesankan, yang tentu saja tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tulisan di bawah ini adalah bagian pengantar dari buku ini dan di bawahnya adalah bait yang aku pandang menarik.


(hal. xiii)
Sekilas Tentang Kakawin Sutasoma
Karya sastra Jawa Kuno adalah karya yang digubah oleh para pujangga di masa Jawa Kuno. Abad ke-9 adalah awal dari tradisi tulis sastra dengan bahasa/aksara Jawa Kuno, yaitu Ramayana. Tradisi tulis ini terputus cukup lama, hingga pada abad ke-13 – berdirinya Majapahit – tradisi karya tulis sastra ini kembali dan mengalami masa kejayaannya hingga akhir abad ke-14. Karya Sastra Jawa Kuno yang dianggap sebagai karya sastra besar dan melampaui zamannya adalah kakawin Ramayana, Mahabarata, Arjunawiwaha, Hariwangsa, Bharatayudha, Gatotkacasraya, Smaradahana, Sumanasantaka, Arjunawijaya, Sutasoma, Siwaratrikalpa, Parthayuajna, dan Kunjarakarna.

Kata kakawin berasal dari kata....., sehingga memiliki arti kata baru, yaitu karya.
Kakawin Sutasoma ditulis oleh penyair Mpu Tantular. Syair ini digubah pada zaman Raja Rajasanagara, atau Hayam Wuruk – ketika Majapahit berada di puncak kekuasaannya di paruh abad ke-14. Di bagian manggalanama Rajasanagara disebutkan. Dewa yang dipuja oleh sang penyair adalah Sri Bajranana, yang namanya tercantum di bait pertama teks Sutasoma. Kata istadewatapada bait pertama mengacu kepada Sri Bajrajnana. Kakawin Sutasoma diperkirakan ditulis dari tahun-tahun sesudah 1365 setelah Nagarakertagama diselesaikan, dan sebelum tahun 1389, ketika Rajasanagara telah mangkat....

(Hal. 113)
Bab XIII, bait 8 & 9

8.
Sang Naga dengan marah membelit dan menyemburkan bisa ke wajah dan mata Gajawaktra, yang tinggal tak tergerak dan tak terluka. Dia mau menggunakan baywagnyarddana (kekuatan angin api) untuk membakar lilitan sang naga, “Hai Durmukha, hentikan”, kata Sang Pangeran dan para pertapa. “Tidaklah tepat bagi seorang pendeta Buddha untuk membunuh lawannya!
(Durmukha adalah nama lain Gajawaktra. Sang Pangeran yg dimaksud adalah Pangeran Sutasoma – penulis blog)
9.
Karena gurumu, Bhatara Buddha berkehendak baik dan berbelas kasih kepada semua yang ada di seluruh triloka. Tidak seorang musuhpun yang boleh dibunuh. Dia hanya mengunakan kebijaksanaan suci untuk menembus pikiran lawannya. Pasti kemurkaan musuh akan hilang berganti hati yang suci dan musuhpun akan tunduk pada pikiran luhur sang pandita.

(Hal. 503)
Bab CXXXIX
1.
Sang Dewa sekarang menjadi murka sekali, karena semua senjatanya telah musnah. Kemudian dia mengubah wujudnya menjadi Kalagnirudra. Wajahnya menjadi sangat menakutkan, seolah-olah dia ingin meleburkan dunia ini menjadi debu. Mulutnya telah terbuka untuk menelan ketiga dunia.
2.
Para dewa berteriak-teriak dan khawatir menyaksikan pemandangan itu. Brahma, Wisnu, dan yang lainya turun memberikan sembah. Demikian juga Sakra, Baruna, Yama, Dhanendra, dan yang lain, diikuti oleh Kuwera, Gana dan Kumara.
3.
Semua resi dewa juga datang, melantunkan mantra Weda. Dan berdoa agar kehancuran dunia diurungkan. Mereka berkata: “Tuanku, engkau adalah guru kami. Janganlah melakukan hal ini! Punyailah belas kasih kepada makhluk-makhlukmu yang akan hancur sebelum berakhirnya zaman (yuganta).
4.
Meskipun keberanianmu dilipatkan seribu kali, karena engkau hendak mengalahkan raja Hastina, mustahil engkau bisa melakukannya. Meskipun dia seorang raja, namun beliau adalah titisan Buddha. Dan tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Siwa, raja para Dewa.
5.
Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenal perbedaannya dengan selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakekatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua (Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa)
...


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Tom Jacob S.J.: "Vatikan II: Hidup atau Mati?"


Artikel ini adalah cuplikan atas tulisan Prof.DR.Tom Jacob, S.J. dlm Majalah Rohani, Juli 1993.... Semua itu berubah dengan Konsili Vatikan II, dimana orang untuk pertama kalinya mulai sadar akan keterbatasan Gereja dalam wujud kebudayaan Eropa. Dalam konfrontasi dengan kebudayaan-kebudayaan lain, khususnya dari Asia dan Afrika, Gereja menjadi sadar bahwa penampilannya dalam rupa Eropa tidak berasal dari Yesus, melainkan berkembang dalam peredaran jaman. Dan disadari pula bahwa apa yang berabad-abad lamanya menjadi rupa Gereja, ternyata tidak musti demikian. Juga bisa dengan cara yang lain.



Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Ign.Suharyo: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita


Judul Buku=
The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita

Buku ini berisi wawancara dgn Mgr.Ignatius Suharyo (Uskup Agung Semarang 1997 – 2009). Berikut adalah cuplikan-cuplikannya...











Sub judul 1: Menjadi Katolik Indonesia
Mengenai Iman, hal. 13:
... Rumusan-rumusan ajaran tentang Tritunggal ini praktis berasal dari Konsili Nicea (325) dan Konsili Konstantinopel (381). Dogma ini bukan ajaran baru yang berbeda dari yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan perumusan pemahaman atas wahyu dalam bahasa dan konsep-konsep zaman tertentu, budaya dan filsafat tertentu, yaitu Yunani....

Mengenai Perpecahan Gereja, hal. 21.
Yang disebut skisma Timur (1054) memecah Gereja Katolik menjadi Gereja Barat yang dipimpin Paus Leo IX dan Gereja Timur yang dipimpin oleh Batrik Konstantinopel Mikael Cerularius. Perpecahan dini disebabkan oleh alasan oleh alasan pribadi, ritual, dan sosio-budaya. Yang disebut skisma Barat (1378-1417) memecah Gereja Katolik menjadi tiga bagian yang masing-masing dipimpin oleh Paus, yang berkedudukan di Roma, Avignon, dan Pisa. Perpecahan ini disebabkan terutama oleh kepentingan raja-raja yang dibela oleh sebagian pangeran-pangeran Gereja. Perpecahan juga merupakan akibat dari praktek hidup Gereja pada waktu tertentu yang dianggap salah. Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther – yang secara umum dikatakan memecah Gereja menjadi Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik – berawal dari praktek penjualan indulgensi oleh Tetzel OP pada tahun 1517. Dari itu berkembanglah perpecahan yang disebabkan oleh ajaran-ajaran yang semakin berbeda. Untuk memahami dengan baik perpecahan ini diperlukan studi yang sungguh-sungguh mengenai masalah-masalah kompleks yang ada di belakangnya.

Sub judul 2: Negara, Pancasila, dan Bonum Commune
Hal. 52:
... Statuta KWI yang disahkan pada bulan November 1987 menyatakan, “ Dalam terang iman Katolik, Konferensi Waligereja Indonesia berasaskan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (pasal 3).”

Sub judul 3: Dialog Antar Agama
Hal. 88 – 96 berisi tentang dokumen Konferensi Waligereja Indonesia yang berjudul “Partisipasi Kita dalam Memulihkan Martabat Manusia dan Alam Semesta (November 2001). Hal 95-96, berisi poinke 66 dokumen tersebut:
66. Maka dengan ini, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
a.
b.
c.Tidak menyetujui siapa saja, termasuk jika ada dari kalangan Katolik sendiri, yang berusaha memaksakan ketentuan partikular agamanya ke dalam ketentuan-ketentuan umum secara formal, karena hal itu dapat dipandang sebagai usaha untuk membubarkan Negara Republik Indonesia.
d.Mendesak agar pemerintah berusaha dengan tegas dan tidak ragu-ragu untuk membela Negara Republik Indonesia dari usaha-usaha mengubah hakikatnya.
e.

Sub judul 4: Perdamaian dunia
Hal. 110:
Mengenai konflik dan perang, terutama antara Israel dengan Palestina, pertama-tama harus ditegaskan bahwa konflik ini bukanlah konflik agama. Namun salah satu hal yang membuat hubungan ini parah memang berkaitan dengan agama, yaitu isu agama digunakan untuk menghadapi masalah-masalah sekuler.

Hal. 113:
Hanya orang yang tidak paham yang akan melihat bahwa itu konflik antara orang Yahudi dan Islam karena banyak sekali orang dan tokoh Palestina yang menjadi korban adalah orang Kristiani juga. Yang pasti, serangan yang dilancarkan oleh Israel sama-sama perlu ditolak, seperti serangan Hamas pada Israel. Semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama, tetapi karena serangan kedua pihak membunuh kehidupan.

Sub judul 7: Korupsi
Hal. 131, setelah berbicara mengenai bagaimana agama berperan menentang korupsi:

... Kalau agama- agama di Indonesia mau sungguh membantu bangsa ini, kumpul saja para pemimpin agama-agama itu, lalu menggerakkan seluruh umatnya untuk memulai gerakan habitus baru tidak korupsi. Saya kira kompetensi agama-agama terletak di situ karena agama tidak mungkin berkompetensi menerapkan hukum anti-korupsi secara sipil dalam tata negara. Namun jangan lupa bahwa lembaga agama yang paling suci pun tidak lepas dari godan untuk korupsi.



Sub judul 11: HAM dan Teologi Pembebasan
Hal. 170:
Penduduk di negara-negara Amerika Latin boleh dikatakan hampir seluruhnya Katolik, termasuk para pemimpinnya. Sementara itu sebagian besar penduduknya miskin atau amat miskin. Selama berabad-abad mereka ditindas, baik oleh bangsawan pada masa lampau, para penjajah, dan saat ini oleh para penguasa. Situasi seperti ini dilestarikan oleh kekuasaan untuk mempertahankan diri dan membela kepentingan orang-orang kaya (yang juga Katolik) dan tentu saja sekaligus menguntungkan penguasa itu sendiri. Sementara itu rakyat yang miskin dan tertindas itu tidak berdaya memperjuangkan nasib mereka. Situasi yang tidak adil yang amat menindas ini menimbulkan pertanyaan eksistensial atau bahkan pertanyaan iman yang mendasar...


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Louis Leahy : Sains dan Agama

Judul Buku : Sains dan Agama Dalam Konteks Zaman ini
Penulis : Prof.Dr.Louis Leahy, S.J.

...Penelitian-penelitian mereka (Isaac Newton, Kepler, Kopernikus, Galilei, Descartes -pen) yang berani telah membantu penetapan batas-batas berbagai tata pengetahuan secara lebih baik. Dalam hal ini mereka tidak selalu mendapat sambutan baik, dan bahkan Gereja sendiri memerlukan waktu lama untuk menerima dengan ikhlas titik pandangan mereka.

Pengalaman Galilei merupakan suatu ilustrasi yang khas tentang hal ini. Sungguh pengalaman itu pahit, namun jasanya tak ternilai bagi dunia ilmu serta gereja, karena membuat kita memahami dengan lebih baik hubungan antara kebenaran yang diwahyukan dan kebenaran-kebenaran yang ditemukan secara empiris. Ia sendiri mengesampingkan adanya suatu kontradiksi sejati antra sains dan iman: kedua-duanya berasal dari sumber yang sama dan harus dikembalikan kepada kebenaran pertama.
(hal 149-50, Pidato di Akademi Pontifikal Ilmu-ilmu Pengetahuan oleh Yohanes Paulus II, 20 Oktober 1986)

...Lalu, representasi geosentris alam semesta adalah sesuatu yang diakui secara universal dalam kebudayaan waktu itu (abad pertengahan -pen) sebagai yang sangat sesuai dengan ajaran kitab suci dimana beberapa istilah, kalau dibaca secara harafiah, seakan-akan merupakan suatu pembenaran mengenai geosentrisme. Masalah yang muncul dari para teolog waktu itu adalah kompabilitas antara heliosentrisme dan kitab suci.

Dengan demikian, sains baru, dengan metode-metode dan kebebasan riset yang diandalkan, memaksa ahli teologi untuk bertanya-tanya mengenai kriteria mereka sendiri dalam menafsirkan isi Kitab Suci. Namun kebanyakan dari mereka tidak mampu melakukan itu.

Secara paradoksial, Galileo, orang relijius yang jujur itu, tampak lebih cerdas daripada para teolog yang menjadi lawan-lawannya. "Meskipun Kitab Suci tidak bisa keliriu", tulisnya kepada Benedettto Castelli, :namun sementara penafsir dan komentatornya bisa keliru dalam berbagai cara."...
(hal 161, Pidato di akademi pontifikal Ilmu-ilmu Pengetahuan dari Yohanes Paulus II, 31 Oktober 1992)


"Jika terjadi kewibawaan Kitab Suci diperlawankan dengan sesuatu yang jelas dan pasti, itu berarti orang yang menafsirkan Kitab Sucilah yang tidak mengertinya secara benar."(kata Santo Agustinus -pen)
(hal 164)


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Norman P.Tanner, S.J.: Konsili Konsili Gereja - Sebuah Sejarah Singkat


Judul Buku = Konsili Konsili Gereja - Sebuah Sejarah Singkat
Penulis = Norman P.Tanner, S.J.
(tulisan miring adalah dari penulis blog berdasar buku itu)

(Konsili yang diakui sebagai Konsili Ekumenis baik menurut Gereja Barat maupun Gereja Timur adalah 7 konsili pertama. Istilah “Konsili Ekumenis” sendiri secara sederhana diartikan sebagai konsili yang mewakili seluruh Gereja tanpa melibatkan para rasul. Munculnya istilah ini untuk membedakannya dengan konsili-konsili lain yang lebih kecil lingkup nya, misalnya konsili2 lokal, juga dengan pertemuan yg dilakukan para rasul, misalnya “Konsili” Yerusalem oleh para rasul sebagaimana yang disebutkan dalam Bab 15 Kisah Para Rasul dan peristiwa Pentakosta.- rangkuman pen)


...(hal. 27)...
BAB SATU
Pada umumnya ada tujuh konsili yang diakui sebagai konsili ekumenis baik oleh Gereja Timur maupun oleh Gereja Barat karena konsili-konsili itu diadakan sebelum terjadi skisma dua Gereja Abad 11, yakni Konsili Nicaea I pada tahun 325, Konsili Konstatinopel I pada tahun 381, Konsili Efesus pada tahun 431, Konsili Kanseldon pada tahun 451, Konsili Konstantinopel II pada tahun 553, Konsili Konstatinopel III pada tahun 680-681, dan Konsili Nicaea pada tahun 787. Konsili-konsili ini kerap kali dibicarakan sebagai tujuh konsili Gereja Utuh Tak Terpecah dan menduduki tempat istimewa dalam tradisi kristiani.


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Nostra Aetate, (cuplikan)


(Konsili Vatikan II tahun 1962-1965 menghasilkan 16 dokumen, yang terdiri dari 4 Konstitusi, 9 Dekrit dan 3 Pernyataan. Salah satu bagian dari hasil tersebut adalah Pernyataan “Nostra Aetate”, yaitu pernyataan Gereja Tentang Hubungan Gereja Dengan Agama-Agama Bukan Kristen. Buku terbitan KWI di bawah ini memaparkan Pernyataan “Nostra Aetate” yang disahkan 28 Oktober 1965 tersebut seutuhnya. Tulisan berikut adalah beberapa bagian 2,3 dan 4 dari terjemahan “Nostra Aetate” tersebut. -pen)



Judul Buku: Dokumen Konsili Vatikan II
Diterjemahkan dari naskah resmi bahasa latin oleh R. Hardawiryana, S.J.

(Bag 2, berkaitan dengan agama bukan kristiani-pen)
Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi ataupun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat relijius yang mendalam. Adapun agama-agama yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam Hindhuisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha falsafah yang mendalam. Hindhuisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh kebebasan yang sempurna, atau – entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allahmendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

(Bag 3, secara khusus berkaitan dengan agama Islam-pen)
Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan suka rela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari Pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga manjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.

Memang benar, di sepanjang zaman cukiup sering telah timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.


Klik ini untuk kelanjutannya

Popular Posts