Archives

gravatar

Harumnya nama...



Harumnya bunga tidak dapat melawan arah angin, begitu pula kayu cendana, bunga tagara, dan melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; Harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segenap penjuru sampai surga. (Dhammapada 54)

Meninggalnya Gus Dur menjadi pemicu ayat/sutta ini aku ingat. Terlepas dari pro dan kontra yang ada tentang Gus Dur dan konsep2nya, banyak sosok lain dalam sejarah yang harum namanya menyebar ke segenap penjuru...


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Kakawin Sutasoma Mpu Tantular


Judul buku = Kakawin Sutasoma Mpu Tantular
Penerbit = Komunitas Bambu, Agustus 2009
Penterjemah = Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo

Bagiku, buku yang mengulas Sutasoma merupakan “buku langka”. Menjadi langka karena isinya adalah hal sangat mendasar bagi bangsa dan negara Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika, akan tetapi sedikit yang beredar di masyarakat. Dari sekian puluh ribu judul buku yang ada di Jogja, hanya ada sedikit yang mengulas Sutasoma, itupun beberapa yang dalam bahasa Inggris. Selain itu juga karena inspirasi2 spiritual yang sangat mengesankan, yang tentu saja tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tulisan di bawah ini adalah bagian pengantar dari buku ini dan di bawahnya adalah bait yang aku pandang menarik.


(hal. xiii)
Sekilas Tentang Kakawin Sutasoma
Karya sastra Jawa Kuno adalah karya yang digubah oleh para pujangga di masa Jawa Kuno. Abad ke-9 adalah awal dari tradisi tulis sastra dengan bahasa/aksara Jawa Kuno, yaitu Ramayana. Tradisi tulis ini terputus cukup lama, hingga pada abad ke-13 – berdirinya Majapahit – tradisi karya tulis sastra ini kembali dan mengalami masa kejayaannya hingga akhir abad ke-14. Karya Sastra Jawa Kuno yang dianggap sebagai karya sastra besar dan melampaui zamannya adalah kakawin Ramayana, Mahabarata, Arjunawiwaha, Hariwangsa, Bharatayudha, Gatotkacasraya, Smaradahana, Sumanasantaka, Arjunawijaya, Sutasoma, Siwaratrikalpa, Parthayuajna, dan Kunjarakarna.

Kata kakawin berasal dari kata....., sehingga memiliki arti kata baru, yaitu karya.
Kakawin Sutasoma ditulis oleh penyair Mpu Tantular. Syair ini digubah pada zaman Raja Rajasanagara, atau Hayam Wuruk – ketika Majapahit berada di puncak kekuasaannya di paruh abad ke-14. Di bagian manggalanama Rajasanagara disebutkan. Dewa yang dipuja oleh sang penyair adalah Sri Bajranana, yang namanya tercantum di bait pertama teks Sutasoma. Kata istadewatapada bait pertama mengacu kepada Sri Bajrajnana. Kakawin Sutasoma diperkirakan ditulis dari tahun-tahun sesudah 1365 setelah Nagarakertagama diselesaikan, dan sebelum tahun 1389, ketika Rajasanagara telah mangkat....

(Hal. 113)
Bab XIII, bait 8 & 9

8.
Sang Naga dengan marah membelit dan menyemburkan bisa ke wajah dan mata Gajawaktra, yang tinggal tak tergerak dan tak terluka. Dia mau menggunakan baywagnyarddana (kekuatan angin api) untuk membakar lilitan sang naga, “Hai Durmukha, hentikan”, kata Sang Pangeran dan para pertapa. “Tidaklah tepat bagi seorang pendeta Buddha untuk membunuh lawannya!
(Durmukha adalah nama lain Gajawaktra. Sang Pangeran yg dimaksud adalah Pangeran Sutasoma – penulis blog)
9.
Karena gurumu, Bhatara Buddha berkehendak baik dan berbelas kasih kepada semua yang ada di seluruh triloka. Tidak seorang musuhpun yang boleh dibunuh. Dia hanya mengunakan kebijaksanaan suci untuk menembus pikiran lawannya. Pasti kemurkaan musuh akan hilang berganti hati yang suci dan musuhpun akan tunduk pada pikiran luhur sang pandita.

(Hal. 503)
Bab CXXXIX
1.
Sang Dewa sekarang menjadi murka sekali, karena semua senjatanya telah musnah. Kemudian dia mengubah wujudnya menjadi Kalagnirudra. Wajahnya menjadi sangat menakutkan, seolah-olah dia ingin meleburkan dunia ini menjadi debu. Mulutnya telah terbuka untuk menelan ketiga dunia.
2.
Para dewa berteriak-teriak dan khawatir menyaksikan pemandangan itu. Brahma, Wisnu, dan yang lainya turun memberikan sembah. Demikian juga Sakra, Baruna, Yama, Dhanendra, dan yang lain, diikuti oleh Kuwera, Gana dan Kumara.
3.
Semua resi dewa juga datang, melantunkan mantra Weda. Dan berdoa agar kehancuran dunia diurungkan. Mereka berkata: “Tuanku, engkau adalah guru kami. Janganlah melakukan hal ini! Punyailah belas kasih kepada makhluk-makhlukmu yang akan hancur sebelum berakhirnya zaman (yuganta).
4.
Meskipun keberanianmu dilipatkan seribu kali, karena engkau hendak mengalahkan raja Hastina, mustahil engkau bisa melakukannya. Meskipun dia seorang raja, namun beliau adalah titisan Buddha. Dan tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Siwa, raja para Dewa.
5.
Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenal perbedaannya dengan selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakekatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua (Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa)
...


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Ign.Suharyo: Luka-luka Sejarah Jangan Dikubur


Judul Artikel = Luka Luka Sejarah Jangan Dikubur
Dimuat di = Majalah BASIS, Juni 2000

(Pengalaman Beliau Tentang Ketulusan – Penulis Blog)
Pada akhir bulan November 1999 lalu, saya diutus oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia untuk menghadiri pertemuan World Conference on Religion and Peace (WCRP) yang ke-7, di Amman, Yordania. Saya berangkat dalam rombongan besar dari Indonesia. Di pesawat yang kami tumpangi, ada banyak TKW (Tenaga Kerja Wanita)

Tampak sekali bahwa pesawat terbang adalah benda asing bagi kebanyakan dari antara mereka. Saya duduk di samping Bapak Prof. Dr. A. Syafi’i Ma’arif, Ketua PP Muhammadiyah, anggota Dewan Pertimbangan Agung. Sampai di Dubai, semua TKW turun. Kami pun harus berganti pesawat. Ketika mengemasi barang-barang, banyak saudari kita TKW yang tidak bisa memasukkan tasnya ke dalam bagasi atas, karena umumnya mereka pendek. Spontan Bapak Syafi’i , tanpa enggan membantu mereka. Suatu pemandangan yang menyentuh hati. Bapak Syafi’i bagi saya adalah pribadi yang tulus. Beliau menanggalkan segala macam atribut yang melekat pada dirinya dan menempatkan diri sebagai sesama bagi saudari-saudari kita itu.

Memaknakan pengalaman
(Kemudian menyampaikan ttng merpati sebagai lambang ketulusan dgn menghubungkan dgn nasihat “tulus seperti merpati” dan pelepasan merpati di Kisah Air Bah. Lantas menunjukkan suatu logo yang menggunakan merpati dan semboyan si vis pacem colle iustitiam, yg artinya “kalau Anda menghendaki perdamaian, tegakkanlah keadilan” . Kemudian melanjutkan uraian tentang ketulusan dengan lebih dalam.- penulis blog)

Ketulusan, tugas dan peluang
Jujur harus diakui dan diterima bahwa sejarah hubungan antarumat beragama, khususnya antara Islam dan kristen, bukanlah sejarah yang hanya baik dan mulus. Sejarah ini mencatat dan menyimpan berbagai macam konflik yang mengakibatkan luka-luka batin....

(Kemudian Ign.Suharyo menyebutkan Perang Salib di abad 11-13M, kolonialisme dan sikap Barat terhadap Islam, fenomena sikap “Bahaya Turki” yg berkembang di Barat sejak abad 15, sikap curiga dan pengesampingan yg dilakukan pemerintah Orde Baru di awal kekuasaannya, isu islamisasi, isu kristenisasi. – penulis blog)

... Sejarah dan akibat-akibatnya ini perlu kita akui dan terima dengan hati yang tulus. Kita perlu menyembuhkan luka-luka sejarah itu. Kita tidak boleh mengubur ingatan-ingatan itu.

Bebas dari belenggu
Sebaliknya, kita perlu berani mengingatnya dan membebaskan diri dari belenggu-belenggunya, meskipun kita tahu bahwa untuk menyembuhkan luka-luka sejarah itu kita harus menempuh jalan yang terjal. Akan tetapi, inilah tugas kita yang amat penting untuk masa kini agar kita mempunyai masa depan. Langkah berani inilah yang dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus I ketika beliau meminta maaf atas pelbagai dosa dan penyimpangan Gereja selama sejarahnya.

Ini pulalah kiranya yang dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid yang dengan tulus mengakui dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan pemerintah di masa lampau.


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Buddha said:


Dhammapada

We are what we think.
All that we are arises with our thoughts.
With our thoughts we make the world.
Speak or act with an impure mind
And trouble will follow you
As the wheel follows the ox that draws the cart.


We are what we think.
All that we are arises with our thoughts.
With our thoughts we make the world.
Speak or act with a pure mind
And happiness will follow you
As your shadow, unbreakable.

How can a troubled mind
Understand the way?

Your worst enemy cannot harm you
As much as your own thoughts, unguarded.
But once mastered,
No one can help you as much,
Not even your father or your mother.


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Tom Jacob S.J.: "Vatikan II: Hidup atau Mati?"


Artikel ini adalah cuplikan atas tulisan Prof.DR.Tom Jacob, S.J. dlm Majalah Rohani, Juli 1993.... Semua itu berubah dengan Konsili Vatikan II, dimana orang untuk pertama kalinya mulai sadar akan keterbatasan Gereja dalam wujud kebudayaan Eropa. Dalam konfrontasi dengan kebudayaan-kebudayaan lain, khususnya dari Asia dan Afrika, Gereja menjadi sadar bahwa penampilannya dalam rupa Eropa tidak berasal dari Yesus, melainkan berkembang dalam peredaran jaman. Dan disadari pula bahwa apa yang berabad-abad lamanya menjadi rupa Gereja, ternyata tidak musti demikian. Juga bisa dengan cara yang lain.



Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Ign.Suharyo: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita


Judul Buku=
The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita

Buku ini berisi wawancara dgn Mgr.Ignatius Suharyo (Uskup Agung Semarang 1997 – 2009). Berikut adalah cuplikan-cuplikannya...











Sub judul 1: Menjadi Katolik Indonesia
Mengenai Iman, hal. 13:
... Rumusan-rumusan ajaran tentang Tritunggal ini praktis berasal dari Konsili Nicea (325) dan Konsili Konstantinopel (381). Dogma ini bukan ajaran baru yang berbeda dari yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan perumusan pemahaman atas wahyu dalam bahasa dan konsep-konsep zaman tertentu, budaya dan filsafat tertentu, yaitu Yunani....

Mengenai Perpecahan Gereja, hal. 21.
Yang disebut skisma Timur (1054) memecah Gereja Katolik menjadi Gereja Barat yang dipimpin Paus Leo IX dan Gereja Timur yang dipimpin oleh Batrik Konstantinopel Mikael Cerularius. Perpecahan dini disebabkan oleh alasan oleh alasan pribadi, ritual, dan sosio-budaya. Yang disebut skisma Barat (1378-1417) memecah Gereja Katolik menjadi tiga bagian yang masing-masing dipimpin oleh Paus, yang berkedudukan di Roma, Avignon, dan Pisa. Perpecahan ini disebabkan terutama oleh kepentingan raja-raja yang dibela oleh sebagian pangeran-pangeran Gereja. Perpecahan juga merupakan akibat dari praktek hidup Gereja pada waktu tertentu yang dianggap salah. Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther – yang secara umum dikatakan memecah Gereja menjadi Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik – berawal dari praktek penjualan indulgensi oleh Tetzel OP pada tahun 1517. Dari itu berkembanglah perpecahan yang disebabkan oleh ajaran-ajaran yang semakin berbeda. Untuk memahami dengan baik perpecahan ini diperlukan studi yang sungguh-sungguh mengenai masalah-masalah kompleks yang ada di belakangnya.

Sub judul 2: Negara, Pancasila, dan Bonum Commune
Hal. 52:
... Statuta KWI yang disahkan pada bulan November 1987 menyatakan, “ Dalam terang iman Katolik, Konferensi Waligereja Indonesia berasaskan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (pasal 3).”

Sub judul 3: Dialog Antar Agama
Hal. 88 – 96 berisi tentang dokumen Konferensi Waligereja Indonesia yang berjudul “Partisipasi Kita dalam Memulihkan Martabat Manusia dan Alam Semesta (November 2001). Hal 95-96, berisi poinke 66 dokumen tersebut:
66. Maka dengan ini, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
a.
b.
c.Tidak menyetujui siapa saja, termasuk jika ada dari kalangan Katolik sendiri, yang berusaha memaksakan ketentuan partikular agamanya ke dalam ketentuan-ketentuan umum secara formal, karena hal itu dapat dipandang sebagai usaha untuk membubarkan Negara Republik Indonesia.
d.Mendesak agar pemerintah berusaha dengan tegas dan tidak ragu-ragu untuk membela Negara Republik Indonesia dari usaha-usaha mengubah hakikatnya.
e.

Sub judul 4: Perdamaian dunia
Hal. 110:
Mengenai konflik dan perang, terutama antara Israel dengan Palestina, pertama-tama harus ditegaskan bahwa konflik ini bukanlah konflik agama. Namun salah satu hal yang membuat hubungan ini parah memang berkaitan dengan agama, yaitu isu agama digunakan untuk menghadapi masalah-masalah sekuler.

Hal. 113:
Hanya orang yang tidak paham yang akan melihat bahwa itu konflik antara orang Yahudi dan Islam karena banyak sekali orang dan tokoh Palestina yang menjadi korban adalah orang Kristiani juga. Yang pasti, serangan yang dilancarkan oleh Israel sama-sama perlu ditolak, seperti serangan Hamas pada Israel. Semua itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama, tetapi karena serangan kedua pihak membunuh kehidupan.

Sub judul 7: Korupsi
Hal. 131, setelah berbicara mengenai bagaimana agama berperan menentang korupsi:

... Kalau agama- agama di Indonesia mau sungguh membantu bangsa ini, kumpul saja para pemimpin agama-agama itu, lalu menggerakkan seluruh umatnya untuk memulai gerakan habitus baru tidak korupsi. Saya kira kompetensi agama-agama terletak di situ karena agama tidak mungkin berkompetensi menerapkan hukum anti-korupsi secara sipil dalam tata negara. Namun jangan lupa bahwa lembaga agama yang paling suci pun tidak lepas dari godan untuk korupsi.



Sub judul 11: HAM dan Teologi Pembebasan
Hal. 170:
Penduduk di negara-negara Amerika Latin boleh dikatakan hampir seluruhnya Katolik, termasuk para pemimpinnya. Sementara itu sebagian besar penduduknya miskin atau amat miskin. Selama berabad-abad mereka ditindas, baik oleh bangsawan pada masa lampau, para penjajah, dan saat ini oleh para penguasa. Situasi seperti ini dilestarikan oleh kekuasaan untuk mempertahankan diri dan membela kepentingan orang-orang kaya (yang juga Katolik) dan tentu saja sekaligus menguntungkan penguasa itu sendiri. Sementara itu rakyat yang miskin dan tertindas itu tidak berdaya memperjuangkan nasib mereka. Situasi yang tidak adil yang amat menindas ini menimbulkan pertanyaan eksistensial atau bahkan pertanyaan iman yang mendasar...


Klik ini untuk kelanjutannya
gravatar

Louis Leahy : Sains dan Agama

Judul Buku : Sains dan Agama Dalam Konteks Zaman ini
Penulis : Prof.Dr.Louis Leahy, S.J.

...Penelitian-penelitian mereka (Isaac Newton, Kepler, Kopernikus, Galilei, Descartes -pen) yang berani telah membantu penetapan batas-batas berbagai tata pengetahuan secara lebih baik. Dalam hal ini mereka tidak selalu mendapat sambutan baik, dan bahkan Gereja sendiri memerlukan waktu lama untuk menerima dengan ikhlas titik pandangan mereka.

Pengalaman Galilei merupakan suatu ilustrasi yang khas tentang hal ini. Sungguh pengalaman itu pahit, namun jasanya tak ternilai bagi dunia ilmu serta gereja, karena membuat kita memahami dengan lebih baik hubungan antara kebenaran yang diwahyukan dan kebenaran-kebenaran yang ditemukan secara empiris. Ia sendiri mengesampingkan adanya suatu kontradiksi sejati antra sains dan iman: kedua-duanya berasal dari sumber yang sama dan harus dikembalikan kepada kebenaran pertama.
(hal 149-50, Pidato di Akademi Pontifikal Ilmu-ilmu Pengetahuan oleh Yohanes Paulus II, 20 Oktober 1986)

...Lalu, representasi geosentris alam semesta adalah sesuatu yang diakui secara universal dalam kebudayaan waktu itu (abad pertengahan -pen) sebagai yang sangat sesuai dengan ajaran kitab suci dimana beberapa istilah, kalau dibaca secara harafiah, seakan-akan merupakan suatu pembenaran mengenai geosentrisme. Masalah yang muncul dari para teolog waktu itu adalah kompabilitas antara heliosentrisme dan kitab suci.

Dengan demikian, sains baru, dengan metode-metode dan kebebasan riset yang diandalkan, memaksa ahli teologi untuk bertanya-tanya mengenai kriteria mereka sendiri dalam menafsirkan isi Kitab Suci. Namun kebanyakan dari mereka tidak mampu melakukan itu.

Secara paradoksial, Galileo, orang relijius yang jujur itu, tampak lebih cerdas daripada para teolog yang menjadi lawan-lawannya. "Meskipun Kitab Suci tidak bisa keliriu", tulisnya kepada Benedettto Castelli, :namun sementara penafsir dan komentatornya bisa keliru dalam berbagai cara."...
(hal 161, Pidato di akademi pontifikal Ilmu-ilmu Pengetahuan dari Yohanes Paulus II, 31 Oktober 1992)


"Jika terjadi kewibawaan Kitab Suci diperlawankan dengan sesuatu yang jelas dan pasti, itu berarti orang yang menafsirkan Kitab Sucilah yang tidak mengertinya secara benar."(kata Santo Agustinus -pen)
(hal 164)


Klik ini untuk kelanjutannya

Popular Posts